Berita Unik dan Aneh

Blog Berita Aktual, Unik dan Aneh

Ngeri !!! Sebelas Penjudi Tersambar Petir

Advertisement
loading...
"Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan." (QS Al-Maidah : 90).

Ilustrasi Penjudi Tersambar Petir ( Foto @Ceramah Bersama )

Jika keinginan berbuat maksiat hadir di hati orang yang lemah iman, maka di mana pun tempatnya, perbuatan itu akan dilakukannya. Tak peduli di komplek pemakaman atau kuburan. Lokasi yang seharusnya menjadi tempat berziarah sambil merefleksikan makna kematian itu, bisa berubah menjadi arena yang kondusif untuk bermaksiat. Namun, Allah SWT, kuasa untuk memberikan peringatan kepada manusia yang berbuat dosa di mana saja. Inilah sebuah kisah tentang sebelas penjudi yang menodai kesakralan tempat pemakanan dengan dosa.

Beruntung, nyawa kesepuluh orang pemain judi koprok itu selamat dari jilatan petir yang menyambar-nyambar. Tidak seperti nasib Erik, seorang dari peserta judi itu yang tewas seketika karena terkena langsung sambaran petir yang menggila.

Namun, kesepuluh orang lainnya harus membayar nyawa mereka dengan kerusakan pendengaran yang berkepanjangan. Petir yang menyambangi arena perjudian mereka, menimbulkan bunyi ledakan yang amat keras, sehingga mengakibatkan gendang telinga kesepuluh orang itu pecah.

Peristiwa itu terjadi pada hari Jumat, di sebuah komplek pemakaman yang cukup luas di Jakarta. hari Jumat menurut keyakinan Islam adalah hari baik dan suci, karena disebut sebagai sayyidul ayyam (Tuannya hari-hari). Namun, tidak demikian bagi Erik dan kawan - kawan. Makna kesucian hari jumat mereka nodai dengan bermain Judi koprok dari pagi hingga siang. Bahkan, kumandang azan yang memanggil mereka untuk shalat Jumat pun diabaikan begitu saja. Barulah setelah petie menyambar di tengah lebatnya hujan itu, permainan judi mereka terhenti. Hari Jumat yang suci pun akhirnya menjadi hari naas bagi mereka.


BERJUDI DI KOMPLEK PEMAKAMAN

Pemakaman cenderung menjadi tempat yang sepi dan mencekam. Namun, bagi sebagian orang lagi, kesunyian komplek pemakaman justru menjadi tempat yang nyaman untuk melakukan perbuatan maksiat. Praktek - praktek tercela yang mereka lakukan memang jauh dari pantauan masyarakat atau petugas keamanan. Maka jangan heran jika praktek perjudian, pelacuran, pemakaian narkoba, terkadang justru berkembang subur di sekitar komplek pemakaman.

Eric cs, adalah diantara sekelompok kecil orang yang biasa memanfaatkan kesunyian komplek pemakaman untuk bermain judi koprok. Mereka sering kali memanfaatkan sebuah gubuk kecil di tengah - tengah deretan batu nisan yang menghampar luas sebagai arena berjudi. Mereka merasa nyaman, karena letaknya sangat jauh dari hiruk-pikuk aktivitas penduduk. Juga aman, karena merasa tidak akan ada petugas keamanan yang menduga kalau di tengah komplek pemakaman yang luas itu ada sebuah tempat berjudi.

Di hari Jumat yang naas itu, pagi - pagi sekali Erik sudah berangkat ke lokasi pemakaman. Jarak dari rumahnya hanya sekitar satu kilometer saja. Sehingga, ia biasanya hanya berjalan kaki untuk menuju ke sana. Pagi itu, gerimis telah turun. Mendung di langit sekitar lokasi pemakaman semakin tebal menghitam. Namun, kondisi alam yang mengkhawatirkan itu tidak menyurutkan langkah pria berusia 30 tahunan ini untuk tetap pergi. Sehari - hari, Erik bekerja di komplek pemakaman yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Ia bekerja sebagai penggali dan perawat makan orang - orang kota.

Pagi itu, Istri Erk sebenarnya telah mencegah suaminya untuk berangkat kerja, karena langit seperti mengisyaratkan akan turun hujan amat lebat. Namun, Erik rupanya sudah punya niat lain. Ia begitu bersemangat pergi ke pemakaman, bukannya untuk bekerja, tapi untuk berjudi bersama teman - temannya. Makanya, ia tetap memaksakan diri untuk berangkat, kendati haru melalui jalan becek dan licinnya jembatan bambu yang harus ia seberangi untuk menuju ke sana.

Sesampai di pemakaman, benar saja teman - teman Erik telah berkumpul. Mereka berjumlah sekitar sepuluh orang. Salah satunya adalah bandar judi koprok. Dengan wajah sumringah Erik mempercepat langkahnya agar segera sampai di gubuk tempat perjudian digelar. Raut mukanya memancarkan optimisme, seolah - olah ia akan segera membawa segepok uang dari hasil memang judi kali ini. Teman - temannya yang lain menyambut kedatangan Erik dengan bangga.

"Gue kira lu bakal nggak dateng, karena ngga punya duit Rik !" ejek salah seorang temannya.

"Untuk urusan beginian sih, mana mungkin gue nggak dateng, ujan - ujan juga gue belain, yang penting menang." balas Erik.

"Ayo-ayo jangan banyak cindong, kita mulai aja permainannya, lu pasang berapa Rik ?" Sergah sang bandar judi Koprok tidak sabar ingin segera memulai permainan.

Erik pun segera terlibat serius dalam permainan judi yang dikenal dengan judi rakyat itu. Judi koprok adalah judi yang menggunakan dadu bergambar atau angka. Dadu itu kemudian dikocok oleh sang bandar. Para pemain lalu memasang taruhan pada gambar atau angka yang dipasangi itu cocok dengan dadu yang keluar, maka pemain itu mendapat keuntungan dua kali lipat dari jumlah uang yang dipasangnya. Jika tidak, maka uang pasangan di tarik sang bandar.

Meski uang pasangan dalam permainan ini hanya kecil - kecilan saja, namun rasa penasaran untuk menang, terkadang membuat seorang pemain lupa kalau ia telah menghabiskan uang banyak. Hari itu Erik memang sedang ketiban sial. Uang pasangannya berkali - kali ditarik sang bandar. Dan hanya satu dua kali saja ia mendapatkan kemenangan. Lama kelamaan uang modal judi yang dibawa Erik hari itu tak terasa habis. Erik pun kebingungan. Sementara teman - temannya yang lain masih asyik berjudi.

"Teman - teman, duit gue habis nih ! Kayaknya gue harus pulang dulu, ngambil duit di rumah." Erik menginterupsi keasyikan teman - temannya.

"Ya udah, lu pulang dulu sana, tapi lu harus balik lagi, permainan kita belum selesai nih." Jawab sang bandar dalam permainan judi ini.

Erik lalu berdiri dari kerumunan teman - temannya. Ia bergegas untuk pulang ke rumahnya. Ketika itu kira - kira pukul 11.30 Siang. Hujan memang sudah tidak selebat setengah jam yang lalu. Namun, petir di cakrawala masih tampak jelas menyambar - nyambar sekitar pemakaman. Erik sebenarnya mengungkapkan pada teman - temannya tentang kekhawatiran akan sambaran petir. Ia awalnya takut untuk berjalan di tanah pemakaman yang memang lapang itu. Karena potensi untuk tersambar petir cukup tinggi.

Namun, bagi orang yang penasaran karena kalah judi, dan merasa harus secepatnya kembali iktu bermain demi membalas kekalahan, kekhawatiran semacam itu menjadi kecil. Apalagi, Erik waktu itu dalam keadaan setengah mabuk, karena selama berjudi ia terus menerus menenggak minuman keras yang dibelinya tadi pagi.

Erik pun akhirnya memberanikan diri menerobos kilatan - kilatan petir yang hampir menyentuh tanah itu. Karena ingin segera sampai ke arena judi lagi. Erik berinisiatif memanggil tukang ojek yang mangkal tidak jauh dari sekitar tempat perjudian itu.

"Bang.. ojek, ojek, ojek Bang !" teriak Erik keras berkali - kali.

Maklum, gemuruh petir dan hujan yang masih gerimis membuat suara Erik terdengar lirih sampai ke pangkalan ojek yang berada di ujung gang masuk ke pemakaman itu. Setelah berteriak amat keras, ada juga salah seorang tukang ojek yang mendengar teriakan Erik. Dengan segera, tukang ojek itu menghampirinya.

"Anterin gue ke rumah dong ! Terus Balik lagi, " Pinta Erik dengan tergesa - gesa kepada tukang ojek yang menghampirinya itu.

Tukang ojek itu memang sudah mengenal Erik, karena pria ini biasa meminta jasa mereka, jika ia harus terburu - buru pulang ke rumahnya.

Erik segera naik ke atas sepeda motor rukang ojek itu. Teman - temannya yang masih bermain menyerunya agar cepat kembali.

"Buruan Rik, jangan lama - lama." Teriak salah seorang dari mereka.

Namun, baru saja sepda motor itu bergerak beberapa meter meninggalkan arena judi, suara ledakan berbunyi amat keras. Tar, tar, tar. Erik pun tersambar dan seketika itu pula terpental dari boncengan tukang ojek sampai sekitar lima meter. Erik tampak lunglai, kendati tubuhnya tidak sempat gosong oleh sambaran petir. Sementara, teman - temannya yang lain pun ikut tersentak, karena suara ledakan petir itu sangat kuat terdengar. Telinga mereka pekak dibuatnya.

Namun, karena melihat Erik yang terkapar, mereka buru - buru menghampiri dan mengangkatnya.

"Rik, rik, bangun rik, lu nggak apa-apa kan?" Teriak salah seorang temannya sambil menepuk - nepuk muka Erik yang masih hangat.

"Kita cepat - cepat bawa dia ke rumah sakit saja." Usul salah seorang diantara mereka.

"Jangan, kita periksa dulu, apakah dia masih hidup, apa nggak," sahut seorang yang lain.

Lalu ia mendekatkan salah satu telinganya ke dada Erik, namun malang, jantung Erik sudah tidak berdetak lagi.,

"Kita bawa ke rumahnya saja, Erik sudah tidak bernafas." kata orang itu mengusulkan.

Anehnya, tukang ojek yang membawa Erik itu, tidak terkena efek apa - apa dari sambaran petir itu.Ia hanya tersentak kaget saja. Akhirnya, di tengah gemuruh suara petir dan hujan lebat, jenazah Erik diantarakan ke rumahnya oleh tukang ojek beserta teman - temannya, setelah nyawanya tak terselamatkan.

Tidak hanya itu, kesepuluh orang teman Erik, termasuk bandar judi koprok mengalami keanehan pada telinga mereka. Setelah pemakaman Erik usai, mereka saling mengungkapkan sakit telinganya satu sama lain. Rata - rata telinga sebelah kiri mereka tuli, dan mengeluarkan air berbau, bahkan diantaranya ada yang tak kunjung sembuh, dan harus bolak - balik periksa rutin ke dokter THT selama berbulan - bulan.


SUMPAH BERANI MATI TERSEMBAR PETIR

Sehari - hari aktivitas Erik adalah merawat beberapa makam di komplek pemakaman yang terletak di daerah pinggiran Jakarta itu. Ia merawat rumput agar tetap terlihat rapi, menyirami tanaman - tanaman hias di sekitarnya, memperbaiki kerusakan pada nisan, dan lain sebagainya. Namun, sela - sela waktu istirahat, bagi Erik beserta teman - temannya biasa dimanfaatkan untuk bermain judi. Teman - teman judinya rata - rata juga berprofesi sama, yaitu perawat makam. Penghasilan mereka sesungguhnya lumayan.

Selain merawat makam, penghasilan tambahan mereka juga berasal dari upah menggali kubur. Sebagai perawat makam orang - orang kota yang rata - rata kaya mereka sesungguhnya bisa hidup baik secara ekonomi. Bisa menyekolahkan anak - anak mereka. Tapi dengan catatan, uang penghasilan mereka sehari - hari tidak digunakan untuk bermain judi dan membeli minuman keras. Kalau kebiasaan semacam itu masih terus dilakukan, berapa pun penghasilan yang mereka peroleh tidak akan mencukupi kebutuhan keluarganya.

Di kalangan keluarga, Erik di kenal sebagai orang yang suka ngelayap atau keluar malam untuk nongkrong atau sekedar bermain bersama teman - temannya. Ia jarang berada di rumah untuk berkumpul bersama keluarganya. Dan sudah jelas orang semacam ini jauh dari aktivitas keagamaan. Ia jarang tampak terlihat pergi ke masjid untuk shalat dan lain sebagainya. Erik pun suka sekali minum - minuman keras, bahkan boleh dibilang hampir setiap hari.

Biasanya, jika tiba saatnya menagih uang honor kepada keluarga pemilik makam yang dirawatnya, Erik menenggak minuman keras terlebih dahulu. Pasalnya, agar ia berani menangih uang tersebut.

Tingkah laku Erik ini sangat berbeda dengan istrinya. Sang istri cukup rajin mengikuti kegiatan - kegiatan keagamaan seperti pengajian dan lain sebagainya. Oleh karena itu, sebenarnya Erik sudah sering kali mendapat protes dari sang istri atas kelakuannya itu. Sang istri sesunggunya menginginkan agar suaminya sadar dan kembali kejalan yang benar. Jika istrinya memperingatkan, bukannya menyadari kesalahan, Erik malah balas memaki istrinya, dan ujung - ujungnya keduanya terlibat pertengkaran.

Tiga hari sebelum kematiannya yang tragis itu, Erik kepergok oleh istrinya sedang berada di komplek pelacuran. erik ketahuan sedang 'nongkrong' di sebuah warung minuman yang sekaligus juga biasa dijadikan sebagai tempat melacur. Ketika itu istrinya sedang melintas di sekitar jalan tempat pelacuran di mana Erik berada. Sesampai di rumah, sang istri yang merasa yakin melihat Erik di sana langsung menanyainya. Dengan penuh keyakinan Erik menyangkal tuduhan sang istri.

Bahkan, ia sempat bersumpah bahwa jika dirinya berbohong maka ia berani mati tersambar petir.


PARA PENJUDI PUN KAPOK

Proses pemakaman jenazah Erik juga tergolong menyusahkan orang - orang yang mengantarnya. Waktu itu kondisi masih hujan, sehingga tanah yang digali untuk memakamkan jenazaj Erik longsor terus menerus, sampai tiga kali menggali. Pada liang lahat yang ketiga itulah jenazah Erik terpaksa dimakamkan, kendati pada lubang yang terakhir ini ditemukan tulang belulang, seperti bekas pemakaman orang lain.

"Waktu itu, kondisinya darurat, sehingga jenazah Erik mau tidak mau harus dimakamkan pada liang lahat yang banyak tulang belulang itu," tutur Rio yang menyaksikan jalannya prosesi pemakaman Erik. Jadi, jenazan Erik ditanam bersamaan dengan tulang belulang yang telah ada sebelumnya.

Menurut kisah Rio, rekan - rekan Erik yang waktu itu ikut berjudi bersamanya, semuanya menderita sakit telinga, bahkan ada yang sampai tuli sebelah telinganya. Kini, mereka tidak lagi berani berjudi di tempat kejadian itu. Mereka kapok. Kendatipun, beberapa diantara mereka masih ada yang suka berjudi di pemakaman, namun di lokasi lain. yang jelas, menurut Rio setelah kejadian yang menimpa Erik dan sepuluh orang temannya yang lain, gubuk kecil di tengah pemakaman itu kini sepi. Tidak lagi digunakan untuk berjudi koprok. Sang bandar pun mengaku kepada Rio, bahwa dirinya trauma jika melihat tempat itu.
loading...


Demikianlah Artikel Ngeri !!! Sebelas Penjudi Tersambar Petir

Sekianlah artikel Ngeri !!! Sebelas Penjudi Tersambar Petir kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya. Anda penulis/blogger punya berita menarik silahkan kirim ke kami di : muktiplaza.online@gmail.com tulisan/beritamu akan kami tayangkan di www.serunique.com ini

Anda sekarang membaca artikel Ngeri !!! Sebelas Penjudi Tersambar Petir dengan alamat link http://www.serunique.com/2017/02/ngeri-sebelas-penjudi-tersambar-petir.html
Bagikan Berita Seru ini Via :
+
 
Template By Kunci Dunia